Namun, tak ada seorang pun yang tahu
kapan tamu agung itu akan datang. Hanya Allah SWT yang mengetahui kapan
malam yang lebih baik dari 1.000 bulan itu akan menghampiri
hambanya.Rasulullah SAw saja hanya diberitahu tanda-randa atau bagaimana
agar umat Islam bisa mendapatkannya. Tak ada satu pun keterangan hadis
yang bisa memastikan kapan datangnya malam lailatul Qadar.
Terlebih, sebagai tamu agung, Lailatul
Qadar hanya dianugerahkan kepada orang-orang yang mendapat taufik dan
beramal saleh pada malam itu. Hikmahnya, supaya orang-orang yang beriman
semakin giat mencarinya sepanjang hari, khususnya pada malam-malam
sepuluh terakhir Ramadhan.
Terkait dengan tanda-tanda fisik yang
populer di kalangan masyarakat mengenai tanda-tanda kehadiran malam
agung itu, Syeikh Yusuf al Qaradhawi mengatakan bahwa tanda-tanda
fisik tersebut tidak dapat memberikan keyakinan tentang Lailatul Qadar,
apakah tejadi atau tidak pada suatu malam. Secara logika saja, karena
lailatul Qadar terjadi di negeri-negeri yang iklim, musim, dan cuacanya
berbeda-beda.
Dikutip dari situs eramuslim,
bisa jadi ada diantara negeri-negeri muslim dengan keadaan yang tak
pernah putus-putusnya turun hujan, padahal penduduk di daerah lain
justru melaksanakan shalat istisqo’.
Negeri-negeri itu berbeda dalam hal
panas dan dingin, muncul dan tenggelamnya matahari, juga kuat dan
lemahnya sinarnya. Karena itu sangat tidak mungkin bila tanda-tanda itu
sama di seluruh belahan bumi ini. (Fiqih Puasa hal 177 – 178)
Prof Nasaruddin Umar juga menambahkan, bahwa Lailatul qadar itu memiliki banyak hikmah bagi kaum mukminin. Menurut ulama di Kementrian Agama Ri itu, Lailatul Qadar bisa diartikan secara fisik bahwa betul-betul memang malam itu ada sesuatu yang istimewa.
Menurut dia, pada malam itu Malaikat
turun berbendong-bondong sangat luar biasa dan hanya pada malam dan hari
itu. Adalagi yang memaknai lailatul qadar simbolis sesungguhnya. Laila
artinya malam, malam bisa berarti keheningan, kesyahduan, kepasrahan,
tawakal, kerinduan, kehangatan, termasuk juga kekhusyukan.
Sebagaimana banyak dijelaskan dalam
berbagai buku sejarah, termasuk Sirah Nabawiyyah, Lailatul Qadar itu
hanya terjadi sekali dalam setahun, yakni hanya pada bulan Ramadhan. Dan
itupun, waktunya tidak ditentukan. Ada yang berpendapat, terjadi di
malam ganjil pada sepuluh malam terakhir Ramadhan.
Pakar hadis, Dr Lutfi Fathullah MA
mengungkapkan, karena begitu mulianya Laailatul Qadar, Rasulullah saw
mengajak seluruh sahabatnya, istri-istrinya sampai kepada
pembantu-pembantunya untuk memperbanyak ibadah. Karena itu, ketika
istri-istri Rasulullah diminta untuk mencari Lailatul Qadar, Aisyah RA
berkata, Ya Rasulullah bagaimana kalau saya yang mendapatkan? Apa yang
harus saya baca? Minta rumah, minta kekayaan atau minta yang lainnya?
Rasulullah mengajarkan Asiyah ra untuk membaca doa, ”Allahumma innaka afuwwun karim tuhibbul afwa fa’fu anni
(Ya Allah Engkalau Yang Maha Pengampun Lagi Maha Pemurah, Engkau senang
mengampuni hamba-hambaMu karena itu ampunilah dosa-dosaku).” Semoga,
kita dipertemukan dengan malam Lailatul Qadar.
Jadi, hikmahnya adalah dengan tidak
mengetahui secara pasti kapan datangnya, dapat mendorong umat mukminin
untuk memperbanyak amal ibdah di sepuluh hari terakhir tanpa
memilah-milah mana malam ganjil atau tidak. Karena yang peling penting
adalah keistiqamahan atau konsistensi ibadah di dalam bulan Ramadan
sehingga layak mendapatkan kemuliaan malam Lailatul Qadar.
Semoga bermanfaat ;)
Sumber: http://pewartaekbis.com/ciri-ciri-malam-lailatul-qadar-menurut-tafsir-ulama-al-quran/4639/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar